logo seputarnusantara.com

Mengenal Sri Utami, Penambal Ban Perempuan di Jalur Pantura Kudus- Jawa Tengah

9 - May - 2018 | 15:02 | kategori:Daerah

Kudus. Seputar Nusantara. Matahari tepat berada di atas kepala.

Raungan kendaraan tak henti-hentinya memekakkan telinga.

Membuat suasana siang di jalur pantura Kudus-Pati di Kabupaten Kudus, benar-benar panas dan padat.

Di seberang SPBU Terban, Kudus, seorang perempuan tanpa canggung membawa ban dalam truk dan alat tambal ban di bengkel tambal ban. Suara bising kompresor beradu dengan suara alat bantu yang dipalu di atas ban luar ukuran besar.

“Saya memang kerja di bengkel tambal ban ini,” kata Sri Utami, Rabu (9/5/2018).

Dia adalah anak dari Imam Syofii, pemilik bengkel ban tersebut. Di usia ayah yang menginjak 74 tahun, tentu Utami merasa terpanggil untuk bantu ayahnya bekerja di bengkel.

“Tapi saya tidak mengerjakan yang berat-berat seperti melepas ban dalam truk. Saya yang enteng-enteng mengerjakannya,” ucap perempuan kelahiran 1988 itu.

Seperti saat ditemui, Utami tampak sedang menjahit pakai jarum ban dalam truk. Ban itu berlubang karena tertancap paku. Sesekali Utami juga menulis nota permintaan pelanggan.

Ikut menjadi penambal ban bersama ayahnya, memang merupakan kebiasaannya sejak kecil sampai sekarang. Bahkan, tak sedikitpun terpancar rasa malu pada diri Utami. “Kerja ya begini,” ungkapnya sambil menyalakan mesin kompresor.

Menurut Imam, dia pernah bertanya kepada anaknya, apa tidak malu kerja jadi penambal ban di bengkel? “Jawab anak saya, ‘Tidak apa-apa. Buat apa malu’,” ungkap Imam.

Imam membuka bengkel tambal ban sejak 1990-an. Dia mengaku sempat tak tega jika putri tunggalnya membantu di bengkel tambal ban. Sri Utami bersikeras. Apalagi ini kini Utami sudah berkeluarga, butuh penghasilan.

“Saya kasih uang setiap hari. Kalau pas ramai, bisa saya beri uang Rp 100 ribu. Kalau sepi, ya di bawah itu,” bebernya.

Suami Utami bekerja di Surabaya Jawa Timur. Mereka telah dikaruniai satu anak. Sri Utami selain membantu ayahnya di bengkel tambal ban, juga bekerja di salah satu pabrik minuman di wilayah setempat, dengan sistem kerja shift.

“Pokoknya kalau pas tidak kerja di pabrik, dia ke bengkel, bantu saya,” ujar Imam yang dulunya bekerja sebagai sopir truk ini. (dtc/Anggi)

BERANDA | RSS 2.0 | KATEGORI: Daerah | Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.