logo seputarnusantara.com

BI : Pariwisata Halal Potensial

17 - Oct - 2018 | 19:41 | kategori:Agama dan Opini

Jakarta. Seputar Nusantara. Dengan banyaknya umat muslim di dunia, pariwisata halal dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan.

Selain itu sektor ini pun dianggap menjadi kunci penguatan ekonomi Indonesia.

“Hal ini mengingat banyaknya jumlah umat muslim di dunia. Di sisi lain, wisata halal juga menghadapi berbagai tantangan. Terutama dari sisi budaya, demografi, tujuan maupun alokasi biaya yang dikeluarkan untuk berwisata,” ungkap Executive Director Bank Indonesia Wiwiek Sisto Widayat dalam keterangan tertulis Kemenpar, Rabu (17/10/2018).

Dalam konferensi internasional di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Senin (15/10) lalu, Wiwiek menambahkan wisata halal tidak dapat berdiri sendiri, namun menjadi bagian dari keseluruhan industri halal yang mencakup sektor finansial dan pembiayaan.

Untuk itu, menurutnya, kerja sama dengan berbagai negara, penting dilakukan pemerintah dan pemangku kepentingan untuk mendorong pengembangan wisata halal.

“Kerja sama juga perlu dilakukan dengan pemangku kepentingan di daerah-daerah wisata halal. Untuk itu diperlukan pemahaman lebih dalam dari berbagai pihak dalam pengembangannya,” jelasnya.

Wiwiek menjelaskan, ekonomi Islam Indonesia yang prospektif untuk dikembangkan seperti makanan halal, busana Islami, pariwisata halal, kosmetika halal dan halal obat-obatan.

“Termasuk rendang yang dinobatkan jadi makanan paling lezat berdasarkan 50 dunia makanan terbaik (CNN travel). Mode Islam juga semakin populer di kalangan generasi milenial dan gaya hidup halal menjadi semboyan muslim di Indonesia saat ini,” terangnya.

Wiwiek menyebut, banyak daerah di Indonesia yang berpotensi dikembangkan sebagai tujuan wisata halal. Salah satunya Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Pemerintah daerah NTB berhasil menunjukkan potensinya di bidang pariwisata. Di sana ada resor, makanan tradisional, tempat-tempat bersejarah Islam dan tentu saja indah pantai. Wisatawan juga bisa datang ke sini dengan kapal pesiar dan menikmati keindahan selat lombok di sore hari,” tuturnya.

Ia menyebut mayoritas wisatawan yang datang ke NTB berasal dari Australia, Malaysia, Singapura dan dari beberapa wilayah di Indonesia.

Lombok juga telah dicanangkan sebagai The Best Destination for Halal Tourism Resort di dunia dari CNBC Indonesia di tahun 2017 dan Mastercard-CrescentRating Global Muslim Travel Index (GMTI) tahun 2018.

Selain itu, lanjut Wiwiek, Lombok juga berhasil mendapatkan penghargaan The World Halal Tourism dua tahun berturut-turut di tahun 2015 dan 2016 di Dubai sekaligus sebagai The World Best Halal Honeymoon Destination.

“Alhamdulillah, sudah kita lihat beberapa perbaikan di sini setelah gempa bumi. Membangun kembali rumah, publik infrastruktur (sekolah, masjid dan lainnya) dan fasilitasnya diproses oleh lokal pemerintah, lembaga sosial, dan organisasi publik. Bahkan internasional di bawah organisasi multinasional dan negara negara tetangga turut membantu,” paparnya.

Sementara Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata Rizki Handayani, menegaskan wisata halal juga mendapat perhatian serius Kemenpar.

“Dengan mayoritas warga adalah muslim, wisata halal jelas mendapat porsi lebih. Apalagi Indonesia memiliki banyak destinasi halal. Salah satunya Lombok yang keindahannya sudah diakui dunia. Untuk itu Kemenpar terus mendorong percepatan perbaikan sarana wisata disana,” katanya.

Pihaknya juga sudah menegaskan ke dunia internasional jika pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) telah pulih. Rizki mengatakan Kemenpar akan mengangkat kembali destinasi wisata NTB pascagempa Lombok.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menjelaskan pihaknya sebenarnya akan meluncurkan Indonesia Muslim Travel Index untuk menyesuaikan dengan standar global.

“Pada September 2018 kemarin Indonesia akan meluncurkan Indonesia Muslim Travel Index (IMTI). Sehingga ekosistem wisata halal terkondisi Indonesia untuk bisa menyesuaikan standar yang direkognisi global,” kata Arief.

Dia menjelaskan dalam IMTI indikator yang digunakan merupakan campuran Global Muslim Travel Index (GMTI), Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI) yang diterbitkan World Economic Forum (WEF) dan The Halal Travel Indicator (HTI) yang menjadi bagian dalam State of the Global Islamic Economy Report inisiasi Thomson Reuters bersama DinarStandard. (dtc/Aziz)

BERANDA | RSS 2.0 | KATEGORI: Agama dan Opini | Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.

Tulisan dengan Kategori Agama dan Opini