Drs. H. Roem Kono ( Komisi V DPR RI ) : Curah Hujan Sangat Tinggi Adalah Salah Satu Penyebab Banjir Bandang di Wasior

24 - Oct - 2010 | 05:12 | kategori:Politik

IMG_1194Gambar atas : Drs. H. Roem Kono, Anggota Komisi V DPR RI

Jakarta. Seputar Nusantara. Banjir bandang berpotensi kembali menghantam Distrik Wasior, Papua Barat. Warga diminta terus waspada karena struktur geologis di wilayah ini memiliki kemiringan topografi yang curam sampai terjal, antara 36-70 derajat. Kemiringan itu terutama di wilayah hulu hingga kaki pegunungan dengan batuan geologi di permukaan tipis dan lapuk. Menurut Drs. H. Roem Kono, Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, bahwa pemicu utama banjir Bandang Wasior- Papua Barat adalah curah hujan yang tinggi dan lama. Curah hujan sepuluh jam terakhir sebelum kejadian mencapai 179 mm. Kondisi curah hujan ini jauh diatas normal (ekstrim) dari rata-rata 200 mm per bulan.

Menurut Roem Kono, curah hujan ekstrim memicu longsoran- longsoran di daerah lereng terjal dan menyeret pepohonan, kemudian bahan rombakan ini mengalir ke alur lembah sungai yang berkelok-kelok mengalami hambatan dan terjadi pembendungan. Bahan rombakan yang terdiri dari air, batuan lepas, dan batang pohon dapat membendung alur sungai di beberapa bagian. Kemudian curah hujan yang tinggi menyebabkan bendung yang terbentuk tidak kuat menahan beban akhirnya jebol.

Roem Kono memaparkan bahwa dalam perjalanannya, material yang mengalir semakin ke bawah menggerus dan menyeret batuan yang dilaluinya dan pepohanan yang tumbuh disepanjang pinggiran aliran sungai. Pada akhirnya volume aliran bahan rombakan bertambah banyak, sehingga menyebabkan banjir bandang.

” Aliran bahan rombakan pada daerah curam, bergerak sangat cepat dan mempunyai daya erosi yang besar, sedangkan pada daerah yang datar alirannya melambat dan menyebar luas,” terang Drs. H. Roem Kono saat ditemui seputarnusantara.com di Gedung DPR, Jumat 22 Oktober 2010.

” Energi atau momentum aliran bahan rombakan di daerah dataran sangat besar walaupun kecepatannya melambat tetapi oleh karena melibatkan massa material yang sangat besar. Akibatnya apapun yang ada di depannya akan terseret ke arah hilir atau pantai,” imbuh Roem Kono.

Seperti diketahui, jenis batuan sepanjang Pegunungan Wondiboy berumur tua dan homogen, serta lapisan lapuknya tipis. Batuan berupa batuan metamorf berupa genes (gneis) kuarsa yang sifatnya mudah hancur dan batuannya mudah pecah.

Struktur geologi yang berkembang berupa patahan (sesar) yang memanjang dari utara sampai selatan di bagian puncak dan kaki pegunungan bagian barat. Keberadaan sesar tersebut mengakibatkan terbentuknya daerah (zona) hancuran yang rentan terhadap longsor oleh hujan dan guncangan gempa bumi.
Daerah Terdampak

Wilayah terdampak umumnya berada di dataran yang dekat dengan daerah aliran sungai. Terdapat 8 (delapan) daerah aliran sungai yang mengalami banjir bandang, yaitu dari utara sampai ke selatan: Sungai Maemari, Rakwa,  Moru, Anggris, Manggurai, Iriati,  Wondamawi I, dan Sungai Isei.

Terjadinya banjir bandang pada 8 sungai tersebut di atas secara bersamaan berkaitan dengan karakter faktor geologi, kecuraman lereng, dan pemicu curah hujan bersifat sama (homogen). Total luas daerah terdampak sekitar 12,5 km2 dan volume material yang terendapkan di dataran rendah pantai sekitar 12,5 juta m3.

Bencana banjir bandang ini mengakibatkan korban jiwa, kerusakan fasilitas umum seperti jaringan listrik, jaringan air minum, jembatan, jalan raya, pelabuhan, pasar, rumah sakit, perkantoran, dan pertokoan, dan pengungsian di dalam dan di luar Kabupaten Teluk Wondama mencapai lebih dari 4.625 orang. ( Aziz )

BERANDA | RSS 2.0 | KATEGORI: Politik | Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.