logo seputarnusantara.com

Suka Duka Penjual Warteg

Suka Duka Penjual Warteg

4 - Dec - 2010 | 03:45 | kategori:Gaya Hidup

Jakarta. Seputar Nusantara.Tak semua penjual warteg berjaya di Jakarta. Tidak sedikit dari mereka yang kembang kempis alias kadang untung, kadang juga merugi.

Kondisi di atas setidaknya dialami oleh Ibu Siti, penjual warteg yang membuka warungnya di Jalan Pengadegan Timur Raya, Pancoran, Jakarta Selatan. Meski telah jualan selama 16 tahun, Siti yang ke Jakarta memboyong semua keluarganya tersebut masih belum menikmati hasil jerih payahnya.

“Sekarang ini sepi, malam dikit aja gak ada orang lewat,” kata Siti saat ngobrol santai di warungnya, Sabtu (4/12/2010).

Siti bercerita, sebenarnya dia pernah mengalami masa keemasan jualan warteg, tepatnya tahun 90-an. Sehari saja warungnya bisa memasak nasi sampai 50 kilogram.

“Sedangkan sekarang, boro-boro,” katanya sambil manyun dan dengan logat ngapak yang khas.

Kebetulan, warteg milik Siti berdekatan dengan Sekolah Tinggi Bahasa Asing LIA. Namun setelah kampus tersebut punya banyak cabang, mahasiswa tak terpusatkan di kampus LIA dekat warteg Siti.

“Apalagi sekarang saingan banyak. Dulu cuma saya yang jualan di sini. Sekarang, lihat saja sendiri,” keluh Siti.

Memang tak jauh dari warteg milik Siti juga ada beberapa warteg lain. Bahkan, dalam jarak 50 meter saja, tak kurang 5 warteg berdiri.

Bagaimana dengan rencana pengenaan pajak 10 persen untuk penjual warteg? “Ya tergantung, teman-teman nanti. Tapi kan omset saya kurang dari Rp 60 juta per tahun,” kata Siti yang mengaku sudah melihat di tayangan televisi tentang rencana pengenaan pajak bagi warteg yang beromset lebih dari Rp 60 juta per tahun.

“Saya nggak sampai segitu (Rp 60 juta) setahun. Jauh..,” katanya tanpa menyebut berapa omset warteg yang sudah kelihatan reot itu. (Aziz)

BERANDA | RSS 2.0 | KATEGORI: Gaya Hidup | Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.