logo seputarnusantara.com

Aksi Bajak Laut Rugikan Perekonomian Dunia Hingga 108 Triliun/ Tahun

Aksi Bajak Laut Rugikan Perekonomian Dunia Hingga 108 Triliun/ Tahun

14 - Jan - 2011 | 01:43 | kategori:Opini

Bajak laut banyak beraksi di Perairan Somalia di Tanduk Afrika.

Sebuah penelitian yang diprakarsai pusat kajian Chatam House, Inggris menyebut aksi bajak laut yang banyak terjadi di perairan Somalia merugikan perekonomian dunia hingga US$12 miliar atau sekitar Rp 108 triliun tiap tahun.

Kerugian itu berasal dari uang tebusan, penambahan peralatan keamanan dan dampak langsungnya terhadap perdagangan internasional.

Meskipun kerugian pasti akibat aksi bajak laut dianggap sulit untuk dihitung namun penelitian ini menyatakan kerugian ekonomi akibat bajak laut secara umum meningkat lima kali lipat sejak 2005.

Aksi pembajakan tak menunjukkan penurunan meski upaya untuk mencegah bajak laut seperti peningkatan patroli keamanan laut terus ditingkatkan.

Penelitian ini menulis sejak tahun 2006 terlah terjadi 1.600 kali aksi bajak laut yang menewaskan 54 orang di seluruh dunia.

Perubahan jalur
Dari ketiga kawasan yang diteliti -Tanduk Afrika, Nigeria dan Teluk guinea serta Selat Malaka- penelitian ini menyimpulkan kerugian terbesar diakibatkan perubahan jalur pelayaran untuk menghindari kawasan yang berisiko.

Perubahan jalur ini menimbulkan kerugian yang tidak sedikit yaitu mencapai US$3 miliar atau setara dengan Rp27 triliun per tahun.

Biaya besar lainnya adalah ongkos operasional pengamanan di perairan Somalia yang mencapai US$2 miliar atau Rp18 triliun setahun.

“Biaya-biaya seperti ini terus meningkat secara signifikan,” kata peneliti lembaga kajian One Earth Future Foundation, Colorado, Anna Bowden.

“Dan upaya-upaya mahal itu tidak banyak membawa perubahan. Hampir tidak ada upaya untuk menyelesaikan akar masalahnya,” tambah Bowden.

Di awal tahun 2011 ini saja, sekitar 500 orang pelaut dari 18 negara menjadi sandera bajak laut di seluruh dunia.

Salah satu kawasan yang dikenal rawan bajak laut adalah Somalia yang selama dua dasawarsa terakhir dikoyak perang saudara yang tak kunjung reda.

( diolah berbagai sumber )

BERANDA | RSS 2.0 | KATEGORI: Opini | Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.