logo seputarnusantara.com

Kejujuran adalah Barang Mewah

Kejujuran adalah Barang Mewah

6 - Aug - 2011 | 06:46 | kategori:Gaya Hidup

Jakarta. Seputar Nusantara. Kejujuran berpolitik masih menjadi barang mewah bagi politisi tanah air. Yang muncul justru politik saling serang, bukan politik santun yang mengutamakan kepentingan rakyat.

“Kesederhanaan dan kejujuran dalam berpolitik adalah barang mewahnya elit bangsa di negeri ini. Hal tersebut tampak dalam hingar bingarnya kondisi perpolitikan tanah air yang mempertontonkan akrobat elit saling serang dan memojokkan secara terbuka, pameran politik penuh politicking, saling mengungkap borok, saling sikut dan sodok, yang semuanya itu tanpa malu-malu lagi dipertontonkan terbuka ke publik,” ujar Ketua FPKB DPR, Marwan Jafar.

Menurut Marwan, kecenderungan politik seperti ini, jika dibiarkan akan menjadikan politik sebagai tujuan dan bukan sebagai alat untuk mewujudkan setiap kepala di Indonesia sejahtera. Fenomena ini juga akan membuat rakyat muak terhadap politik yang pada akhirnya akan memunculkan ketidakpercayaan publik terhadap elit politik maupun lembaga-lembaga politik.

“Situasi ini tidak boleh dibiarkan, sudah seharusnya semua elit politik menghentikan semua prilaku politik kontraproduktif dan tidak mendidik rakyat. Sebuah politik yang jauh dari intrik kotor, saling sandera dan saling tikam. Melainkan politik yang mampu membawa para politisi meminimalisasikan kepentingan pribadi dan kelompok dan sebaliknya memaksimalisasikan kepentingan bangsa dan negara yang lebih besar,” terangnya.

Sedangkan kesederhanaan dalam berpolitik, imbuh Marwan, tercermin dalam terimplementasikannya sikap kenegarawanan dalam praktek politik keseharian dari para elit politik di negeri ini. Sikap kepemimpinan politik negarawan itu tercermin dalam kuatnya usaha elit negeri untuk menjadi teladan yang baik bagi yang dipimpin, selalu meletakkan kepentingan rakyat diatas kepentingannya sendiri.

“Karena itu FPKB mengajak kepada seluruh elite bangsa, elite politik untuk kembali berpolitik yang sederhana dan mengembangkan kesederhanaan dalam berpolitik, sehingga proses dan dinamika politik berjalan secara beradab, produktif dan transformatif. Jika elite politik tidak bersedia melakukannya, maka bangsa ini hanya tinggal menunggu saat terjadinya kebangkrutan politik yang kian nyata,” tandasnya. (dtc/Anggi)

BERANDA | RSS 2.0 | KATEGORI: Gaya Hidup | Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.