logo seputarnusantara.com

Nilai Sosial Ekonomi Tradisi Mudik

Nilai Sosial Ekonomi Tradisi Mudik

27 - Aug - 2011 | 02:31 | kategori:Opini

Jakarta. Seputar Nusantara. Sepekan jelang idul fitri, masyarakat perkotaan berbondong-bondong kembali ke desa, ke kampung halaman di mana mereka dan leluhur dilahirkan. Tujuannya adalah merayakan idul fitri bersama sanak famili. Tradisi pulang kampung di hari raya ini kerap disebut dengan istilah tradisi mudik.

Di telusuri secara gramatikal (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2011), mudik berasal dari kata “udik” yang memiliki dua pengertian yakni sungai di sebelah atas (arah dekat sumber) atau (daerah) di hulu sungai. Sungai di sebelah atas bermakna sebagai sumber mata air yang masih jernih sehingga menjadi sumber penghidupan masyarakat karena belum tercemar oleh limbah.

Pengertian kedua, “udik” bermakna desa, dusun, kampung dan istilah semacamnya yang kerap di lawankan dengan kota. Kita kerap menegur seseorang dengan istilah “udik” dengan maksud menyebut yang bersangkutan sebagai bagian dari anggota masyarakat yang tidak tersentuh modernisasi, hidup nan jauh dari akses ilmu pengetahuan dan teknologi.

Di telusuri dari kesejarahan, tradisi mudik memiliki filosofi sosial yang melekat dalam struktur masyarakat khususnya masyarakat Jawa. Umar Kayam (2002) mencatat dalam tradisi mudik terdapat dialektika kultural sejak zaman sebelum berdirinya kerajaan Majapahit. Petani Jawa dalam cacatan Umar Kayam (2002) memiliki tradisi mudik yang dilaksanakan secara turun temurun.

Berbeda dengan makna mudik masa kini, pra kerajaan Majapahit mudik dimaksudkan dengan tujuan membersihkan makam (pekuburan) para leluhur dan berdoa kepada dewa-dewa untuk keselamatan masyarakat yang ada di kampung tersebut. Mudik pra Islam ini dijalankan sekali dalam setahun.

Makna Sosial

Tradisi mudik memiliki keterkaitan erat mobilisasi penduduk (migrasi) dari desa ke kota yang karib disebut dengan istilah urbanisasi. Meski tulisan ini tidak untuk mendiskusikan tentang migrasi dalam kajian kependudukan di Indonesia namun dalam tradisi mudik ala Indonesia menyiratkan pesan kepada kita bahwa meski seseorang telah melakukan migrasi ke kota, mereka tidak ingin keluar dari tradisi dan identitas kultural “desa” yang mereka tinggalkan.

Identitas desa yang tidak ada di perkotaan antara lain kehidupan yang menyatu dengan alam sekitarnya. Secara administratif dan sosiologis, kota mengambi

Sedangkan desa hanya memproduksi hasil-hasil pertanian. Dengan fungsi yang dikotomis tersebut membuat desa mewujud sebagai wilayah yang memiliki struktur sosial dan kulturalnya melekat dengan struktur ekologisnya.

Anak-anak desa biasa dekat dengan alam sebagai tempat bermain. Kehidupan sosial desa yang tercipta dari struktur ekologis yang berbeda dengan kota juga memudahkan masing-masing orang untuk berinteraksi sehingga budaya guyuppun juga mudah ditemukan di pedesaan.

Mudik digunakan oleh masyarakat urban untuk bernostalgia tentang masa kecilnya di desa bersama para famili. Selain menjalankan ritual ziarah kubur dan acara selamatan, masyarakat urban menghabiskan waktu mudiknya untuk berkumpul dengan keluarga, silaturrahmi (ke handai tolan, guru, teman kecil), mengikuti kegiatan reuni sekolah dan mengunjugi tempat-tempat rekreasi.

Dalam kegiatan-kegiatan yang mewujud bak “ritual sosial” secara turun-temurun tiap tahun ini telah merekatkan identitas masyarakat urban dengan asal-usulnya sehingga identitas itu tetap menempel meski lama mendiami perkotaan. Kecintaan terhadap kampung halaman biasanya di ekspresikan oleh kaum urban dengan bahasa daerah sebagai alat komunikasi mereka sehari-hari khususnya dengan para perantau dari daerah yang sama.

Dalam interaksi sosialpun, nuansa primordial desa juga terbawa dan mewarnai kehidupan kaum urban seperti hadirnya perkampungan-perkampungan (di Ibu Kota terdapat perkampungan Jawa, kampung Madura, kampu ng Bali, Kampung Melayu, Kampung Bugis dan sebagainya).

Mudik juga kerap dijadikan media sosialisasi masyarakat urban kepada famili dan tetangganya tentang berbagai kemungkinan mengadu nasib di perkotaan berdasar pengalaman mereka masing-masing.

Wal hasil pasca mudik biasanya diikuti oleh mobilisasi masyarakat pedesaan khususnya yang tidak memiliki lahan pertanian untuk mengadu nasib di kota meski dengan pekerjaan yang terkadang tidak pasti dan mengundang resiko yang tidak sedikit.

Dalam ranah ini –meminjam istilah Sosiolog aliran fungsional- mudik mengandung “latent fungtion” (baca: tujuan tersembunyi) berupa “propaganda” bahwa hidup di kota lebih “nyaman” dan bahagia ketimbang hidup di desa yang kini lahannya sudah banyak dimiliki orang kota.

Indikator bahagia ditampilkan dari performa masyarakat urban dari sisi fisik misalnya pulang kampung dengan menggunakan kendaraan (mobil maupun motor), kemampuan berbagi rizki (uang) dengan sanak famili dan beragam asesoris yang nempel di tubuh (perhiasan dan alat komunikasi).

Nilai Ekonomi

Jumlah pemudik dari Ibu Kota Jakarta tahun 2011 ini diprediksikan akan mencapai 7.129.095 orang. Sedangkan dari daerah di sekitar Jakarta seperti Bogor mencapai sekitar 800.000 orang, Bekasi 99.290 orang, Tangerang sebanyak 80.674, Kota Tangerang Selatan 80.000 orang dan Depok sekitar 29.584 orang (Kompas, 22/8).

Kesibukan masyarakat urban menjelang mudik membawa kesibukan aktifitas ekonomi di perkotaan. Uang yang mengalir di perkotaan menjelang mudik dapat dilihat dari pemenuhan kebutuhan “kosumtif” seperti penyediaan baju-baju baru untuk digunakan pada saat hari raya idul fitri di kampung halaman, pembelian tiket jasa transportasi (pesawat, kereta api, bus dan bahkan truck) yang biasanya harganya bisa mencapai dua kali lipat dan pemenuhan kebutuhan sekunder lainnya.

Hari raya idul fitri yang kerap dimaknai dengan beragam perayaan “ritual sosial” dan rekreasi di kampung halaman secara langsung mengalirkan uang dari kota ke desa. Untuk “ritual sosial massal” ini masyarakat urban kerap mengabaikan aspek jangka panjang dalam pengelolaan keuangan.

Tujuan mudik sering kali diplesetkan sebagai upaya “menaburkan hasil” kerja yang telah dilakukan selama setahun penuh di kota sehingga budaya hemat tidak berlaku selama masyarakat urban berada di kampung halaman.

Tradisi “menaburkan hasil kerja setahun” di kampung halaman selama mudik ini menurut catatan Dharmawan (2011) mirip dengan jutaan ikan salmon yang secara alamiah mengarus ke hulu setahun sekali karena hendak bertelur dan meregenerasi keturunannya agar terjadi keberlanjutan eko-biologis.

Layaknya ikan salmon yang menumpahkan telurnya setahun sekali, di tengah jalan ke hulu ikan-ikan salmon tersebut kerap menjadi mangsa beruang atau binantang buas lainnya. Sebelum sampai tujuan, ikan-ikan salmon banyak mati sia-sia. Dalam kasus mudik, hal serupa juga kerap terjadi dengan adanya banyak kecelakaan di perjalanan, korban copet dan pembiusan.

Banyak pihak menaruh harap pembangunan ekonomi pedesaan meningkat seiring dengan adanya fenomena “suksesi ekonomi kehidupan” seperti yang terjadi dalam tradisi mudik massal, namun kenyataannya justru sebaliknya.

Kota tetap menjadi tumpuhan seiring dengan banyaknya masyarakat desa yang mengadu nasib dan meninggalkan desanya. Lalu siapakah yang menikmati “suksesi ekonomi” tahunan tersebut?

*Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Pedesaan IPB

BERANDA | RSS 2.0 | KATEGORI: Opini | Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.