logo seputarnusantara.com

Resensi Buku : Sawit Dalam Memoar Sang Duta Besar Sawit

Resensi Buku : Sawit Dalam Memoar Sang Duta Besar Sawit

13 - Sep - 2011 | 13:13 | kategori:Gaya Hidup

Oleh: Yasser Asturanawa

Judul Buku    : Derom Bangun; Memoar “Duta Besar Sawit” Indonesia
Penulis        : Bonnie Triyana
Penerbit    : Buku Kompas, Jakarta
Cetakan    : I, 2010
Isi        : xxviii+ 548 Halaman
ISSBN        : 978-979-709-522-2

Sebuah memoar selalu berisi kisah seorang tokoh. Mulai dari masa kecil, remaja, dewasa, hingga masa-masa ketika ia berhasil meraih bintang kesuksesan. Atas dasar itu, saya tak begitu tertarik untuk untuk membaca buku ini. Di luar sana memoar serupa telah banyak berserak. Selain itu, sosok tokoh yang dikisahkan oleh memoar ini, Derom Bangun, masih asing bagi saya. Akhirnya satu-satunya alasan yang dapat memompa darah baca saya adalah ihwal dunia persawitan Indonesia. Sebuah dunia yang membuat sang tokoh dijuluki duta besar sawit Indonesia.
Kiranya, bagi saya hanya itulah daya tarik memoar ini. Namun ternyata, dari pembacaan atas dunia persawitan yang asing itu, saya justru merasa menemukan kehebatan sang tokoh, Derom Bangun. Pantaslah ia dujuluki sebagai sang duta besar sawit Indonesia. Sebab di buku ini, ia memaparkan jerih usahanya untuk mengenalkan sawit Indonesia dalam segala dimensinya kepada dunia. Baik di kala ia menjadi pembicara di konferensi internasional tentang sawit di London maupun ketika ia menjadi satu di antara sekian tokoh Indonesia yang dipercaya untuk melakukan loby-loby ekonomi dengan pemerintah Rusia.

Sawit di Indonesia

Pada tahun 1466, orang-orang Portugis berlayar ke Afrika. Saat tiba di Pantai Gading, mereka melihat warga setempat sedang mengolah kelapa sawit menjadi masakan. Ada juga yang digarap menjadi adonan bahan kecantikan. Terhitung sejak saat itu, untuk pertama kalinya dikapalkanlah beberapa biji sawit ke Inggris pada tahun 1470. Baru pada tahun 1844, pemerintah Hindia-Belanda menghijrahkan empat biji sawit, dua berasal dari Afrika dan dua lainnya dari Amsterdam, ke Indonesia untuk ditanam di Kebun Raya Bogor sebagai tanaman hias. Pada tahun 1853 keempat tanaman tersebut berbuah. Bijinya dibagikan kepada masyarakat sekitar secara gratis.
Sekitar sepuluh tahun kemudian, penanaman sawit di Karesidenan Palembang, Sumatera Selatan, dimulai (hal. 105). Ujicoba lainnya digelar di Musi Ulu pada tahun 1870 dan di Belitung pada tahun 1890. Hasilnya, sawit telah berbuah pada tahun keempat pasca penanaman. Padahal di negeri asalnya tumbuhan palma itu baru berbuah pada tahun keenam atau ketujuh. Meski demikian, hasil ketiga ujicoba itu agak mengecewakan. Belakangan, hasil penanaman sawit di Sumatera Utara, daerah yang tak terlalu diharapkan untuk ujicoba kala itu, malah menggembirakan. Bahkan kualitasnya diakui dunia sejak sebelum Perang Dunia II. Kelapa sawit jenis inilah yang kelak dikenal dunia sebagai varietas Dura Deli.
Adapun ide membuat perkebunan sawit demi alasan komersial mulai dilirik pada pertengahan abad ke-19 bersamaan dengan melonjaknya permintaan dunia pada minyak nabati. Adalah Adrien Hallet, seorang warga Belgia, yang memeloporinya di Sungai Liput, Aceh Timur pada tahun 1911. Sejak itu, sawit menjadi primadona perkebunan dan bintang perekonomian hampir di seluruh pojok nusantara. Hingga tahun 2009, jumlah produksi minyak sawit Indonesia telah mencapai 21,6 juta ton/tahun. Kini bersama dengan Malaysia, Indonesia telah menghasilkan lebih dari 85 persen produksi minyak sawit dunia (hal. 115).
Tapi perjalanan sawit di Indonesia tak selalu mulus. Di memoar ini, Derom Bangun mengabarkan berbagai masalah yang melingkungi dunia sawit Indonesia. Mulai dari pernik yang menyangkut proses produksi, distribusi, dan investasi hingga masalah yang mengisari aspek pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Termasuk di dalamnya ihwal kemanfaatan sawit untuk kelangsungan pangan sekaligus bahan bakar. Isu penyelamatan lingkungan dan perhatian lebih pada petani dan pengusaha sawit kecil menduduki point penting dari semua itu (hal. 532-535).
Selain itu, Derom juga menginformasikan manfaat non-konsumsional sawit. Misalnya ketika sawit dipakai dalam proses imbal dagang antara Indonesia-Rusia semasa pemerintahan Presiden Megawati. Sebagaimana diketahui, sejak Orde Baru, secara militer Indonesia telah diembargo oleh Amerika Serikat. Akibatnya sebagian besar alutsista semakin ketinggalan zaman dan tak berbunyi saat dihadapkan pada tuntutan termutakhir dalam bidang pertahanan. Maka Presiden Megawati menggagas ide untuk membeli alutsista baru dari Rusia. Nah, minyak sawitlah yang saat itu menjadi alat pembayaran (hal. 80-100).

Tentang “sang penenang”

Itulah sekelumit sejarah sawit di Indonesia dalam memoar Derom Bangun ini. Ia seorang pria. Dilahirkan pada 16 Juni 1940. Payung, desa kelahirannya, terletak di Selatan Gunung Sinabung, Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara (hal. 333). Nama “Derom” bersumber dari mantra yang dipakai oleh orang Karo untuk menenangkan kerbau liar. Saat ia lahir, ayahnya yang seorang pengagum Tan Malaka, telah menyiapkan nama Thomas untuknya. Tapi kakeknya menawarkan nama “Derom” dengan harapan agar ia dapat menjadi penenang situasi. Sedangkan “Bangun” adalah marga asal tanah Karo yang tak boleh ditanggalkan (hal. 356-358).
Semua yang ia alami selama lebih kurang 70 tahun hidup di dunia ini dituturkannya di sini. Baik ihwal kelahirannya, suka-duka ketika ia dan keluarganya mengungsi ke Aceh, hingga kisah unik saat ia melanjutkan sekolah ke ITB Bandung. Riwayat lain yang menyangkut pergolakan karirnya juga turut dihikayatkan. Di antaranya; kala ia memutuskan untuk mundur dari PT. Socfindo setelah mengabdi di sana selama lebih dari 20 tahun; mendirikan PT Kinar Lapiga; menjadi Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI); menjadi pembicara di seminar dan konferensi internasional; hingga menjadi anggota Tim Penasihat Eksternal Kelompok Bank Dunia yang cuma ada tiga orang saja!
Uniknya, semua kisah yang ia babarkan selalu berlumur sawit. Jadilah buku ini sebuah memoar yang berisi informasi ihwal dunia (per)sawit(an) yang tak banyak diketahui oleh kaum awam seperti saya selain cerita mengenai laba ekonominya saja. Di sinilah kelebihan memoar ini. Ia tak hanya terkesan menjilati nama tokoh yang sedang diceritakannya, tapi juga mampu menjinjing hal-hal rumit nan langka menjadi obyek wicara yang dipercuapkan dengan renyah dan intim. Bukan rahasia lagi, selama ini sawit di Indonesia masih saja diperkalamkan dengan statistik dan data-data pemusing kepala.
Sebagaimana lazimnya, memoar ini pun tak jauh dari subjektivitas sang tokoh. Peristiwa tertentu yang ia ceritakan kepada penulis, Bonnie Triyana, tentu sangat berbeda kesannya jika diceritakan oleh orang lain yang juga mengalami peristiwa sama. Selain itu, setelah memoar ini saya kuliti berulangkali, ternyata tak ditemukan siapa nama Direktur Jendral Perkebunan Indonesia (hal. 4) yang menyematkan gelar “duta besar sawit Indonesia” pada Derom. Agaknya, kekaburan ini terkait dengan target tertentu yang selalu melingkungi setiap penerbitan memoar seorang tokoh. Apalagi memoar para tokoh politik dan pengusaha. Meski begitu, melalui memoar ini, ketokohan sang penenang Derom Bangun alias “Sang Penenang” itu, tak perlu diragukan lagi.

* Yasser Asturanawa
Penikmat buku. Tinggal di Yogyakarta

-    Alamat:
Jln. Rajawali 10 Demangan Baru Komplek Kolombo Yogyakarta 55281
Telp: 0274-563149

BERANDA | RSS 2.0 | KATEGORI: Gaya Hidup | Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.