logo seputarnusantara.com

SBY Harus Ubah Gaya Dalam Kepemimpinan

SBY Harus Ubah Gaya Dalam Kepemimpinan

22 - Sep - 2011 | 02:51 | kategori:Gaya Hidup

Jakarta. Seputar Nusantara. Kinerja menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II yang biasa-biasa saja juga tidak lepas dari kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selaku Presiden. Karena itu, selain me-reshuffle  bawahan, SBY sendiri juga harus mengubah gayanya dalam memimpin.

” Reshuffle saja nggak cukup. SBY harus mengubah ubah gaya kepemimpinan yang menggerakkan. Dia harus menjadi pemain gelandang, yang menggerakan dan mendorong menteri-menterinya untuk bekerja,” kata pengamat politik Andrinof Chaniago, Rabu (21/9/2011).

Menurut Andrinof, tidak bisa memimpin kabinet hanya dengan rapat-rapat koordinasi. SBY harus memanajemen menterinya dengan baik, di samping pula mengawasi kinerja mereka secara lebih ketat. Presiden dimintanya berani mengambil sikap terhadap para pembantunya bila lembek dalam bekerja.

“Jangan terlalu toleran kalau niatnya untuk memperbaiki kinerja menteri,” katanya.

Sebagai Kepala Negara, Presiden SBY seyogyanya juga tidak banyak mengeluh bila ditimpa masalah atau menghadapi kritikan. Sebaliknya, Presiden harus berperan sebagai problem solver dan decicion maker. Setiap ada masalah langsung dipecahkan dan diputuskan.

“Ya, kita memang tahu pasangan ini (SBY-Boediono) dua-duanya gayanya sama, penceramah semua. Karena itu harus berubah,” saran Andrinof.

Andrinof menilai, hingga 2 tahun pemerintahan SBY-Boediono, pengawasan terhadap para menteri tidak berjalan efektif. Itu pula sebabnya kinerja kementerian berada di bawah rata-rata. Bila SBY sedikit tegas, para menteri pasti lebih cepat mengevaluasi diri dan melakukan perbaikan.

Saat ini, lanjut Andrinof, adalah kesempatan terakhir bagi SBY untuk membuktikan kepemimpinannya. Dengan berani merombak kabinet dan sekaligus mengubah gaya kepemimpinan, SBY diyakini bisa mewujudkan pemerintahan yang berhasil.

“Kalau nggak jadi reshuffle ya tamat. SBY hilang dalam sejarah. Ini kesempatan terakhir untuk menunjukkan dia bisa menjadi pengambil keputusan. Kalau tidak, masyarakat pasti akan pasrah dan merasa pesimis,” tuturnya. (dtc/Aziz)

BERANDA | RSS 2.0 | KATEGORI: Gaya Hidup | Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.