logo seputarnusantara.com

Mengapa Manusia Semakin Usia Tua, Semakin Susah Tidur?

Mengapa Manusia Semakin Usia Tua, Semakin Susah Tidur?

3 - Nov - 2011 | 02:31 | kategori:Kesehatan

Jakarta. Seputar Nusantara. Manusia memerlukan tidur untuk mengisi ulang energi tubuh dan pikirannya agar bisa terus bekerja dengan efektif. Jumlah kebutuhan tidur orang dewasa sampai tua tetap sama antara 6-7 jam per hari, tapi pada orangtua biasanya hanya bisa tidur 3-4 jam.

Penelitian yang dilakukan Surrey Sleep Research Centre di University of Surrey and Harvard Medical School menemukan bahwa ketika orang diizinkan untuk tidur sebanyak yang diinginkan, orangtua rata-rata memiliki waktu tidur 1,5 jam lebih sedikit.

Semua orang dewasa melalui fase yang berbeda saat tidur pada malam hari. Ini termasuk jumlah episode gerakan mata cepat atau tidur REM (tahap tidur ketika terjadinya mimpi) selama otot-otot yang rileks namun otak sangat aktif, diselingi dengan tidur non-REM di mana otak yang kurang aktif tetapi tubuh bergerak di sekitar.

Tetapi lansia cenderung hanya memiliki satu periode tidur nyenyak setiap malam biasanya dalam 3 atau 4 jam pertama dan setelah itu mereka dapat bangun lebih mudah.

Peningkatan masalah tidur dapat terjadi seiring bertambahnya usia. Beberapa masalah tidur, terutama insomnia juga lebih umum seiring bertambahnya usia. Lansia juga lebih mungkin menderita masalah kesehatan kronis yang dapat mengganggu tidur. Akibatnya banyak orang tua mengikuti pola tidur yang buruk.

Hal tersebut dapat diperparah oleh pengurangan secara bertahap produksi hormon seperti melatonin dan hormon pertumbuhan yang membantu untuk menjaga ritme tubuh sehari-hari. Lansia yang sudah tidak memiliki rutinitas, mungkin tergoda untuk tidur di sore hari sehingga akan sulit tidur di malam hari.

Jika lansia susah tidur mungkin ada penyakit yang sering mengganggu seperti dikutip dari BBCHealth, Kamis (3/11/2011) antara lain:

1. Depresi dan kecemasan
Depresi umum terjadi pada lansia dan mereka yang mungkin memiliki masalah tidur. Kecemasan dapat menyebabkan seseorang susah tidur dan tetap terjaga. Depresi atau kecemasan juga dapat menyebabkan seseorang terbangun dini hari dan tidak dapat tidur kembali.

2. Penyakit kronis
Kondisi yang menyakitkan seperti arthritis sering dialami oleh lansia, yaitu rata-rata pada usia mencapai 70 tahun. Sehingga rasa nyeri dari arthritis sering mengganggu tidur.

3. Demensia
Demensia dapat mengganggu pola normal dari aktivitas sehari-hari. Beberapa orang dengan demensia menjadi lebih bingung saat siang berubah menjadi malam. Atau masalah tersebut biasa dikenal sebagai sundowning. Seseorang dengan demensia ketika mengalami sundowning mungkin menjadi sangat tidak tenang, berkeliaran, atau berteriak keluar.

4. Penyakit pernapasan dan penyakit jantung
Kondisi seperti penyakit paru obstruktif kronik (COPD) dan gagal jantung dapat menyebabkan masalah ketidaknyamanan atau masalah pernapasan yang dapat mengganggu tidur. COPD juga dikenal atau lebih umum disebut sebagai bronkitis kronis.

5. Kebutuhan untuk ke kamar kecil
Ketika usia semakin tua, akan sering merasa lebih sulit untuk menahan buang air kecil. Sehingga sulit untuk melalui malam tanpa ke kamar kecil sama sekali.

Hal tersebut mungkin karena masalah dengan kelenjar prostat pada pria, penurunan kekuatan otot-otot dasar panggul pada wanita, yang berguna untuk menahan kandung kemih yang terisi.

Gangguan tidur yang umum pada lansia, antara lain:

1. Insomnia
Insomnia telah mempengaruhi sebanyak 1 dari 3 lansia, sehingga menyebabkan lansia tidak mendapatkan tidur yang berkualitas.

2. Sleep apnea
Sleep apnea menyebabkan tidur terus-menerus terganggu karena paru-paru gagal menarik cukup oksigen melalui saluran pernapasan. Ketika usia beranjak tua, semua otot menjadi lebih lemah, dan saluran pernapasan lebih mungkin berada di bawah tekanan lapisan lemak pada wajah dan leher.

Hal tersebut menyebabkan kualitas tidur yang buruk, kinerja siang hari berkurang, dan peningkatan risiko serangan jantung dan stroke.

3. Restless legs syndrome
Meskipun umum, namun beberapa orang baru tahu mengenai kondisi tersebut hingga mereka mengalami gejala yang mengarah pada perkembangan sindrom tersebut. Penyebabnya tidak diketahui tetapi mungkin terkait dengan penyakit saraf, penyakit ginjal, penyakit Parkinson, anemia, dan obat-obatan tertentu.

Beberapa orang memiliki gangguan gerakan tungkai secara periodik. Kondisi tersebut akan merespon jenis obat yang digunakan untuk mengobati penyakit
Parkinson, yaitu obat yang meningkatkan kadar neurotransmitter (pesan kimia saraf) dopamin.

BERANDA | RSS 2.0 | KATEGORI: Kesehatan | Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.