logo seputarnusantara.com

Hariz Azhar Protes Kejagung

27 - Jan - 2020 | 13:34 | kategori:Tokoh

Jakarta. Seputar Nusantara. Direktur Eksekutif Lokataru Haris Azhar mendatangi Kejaksaan Agung (Kejagung). Haris menyampaikan beberapa temuan dan meminta transparansi Kejagung dalam perampasan aset milik Lee Darmawan terkait kasus awal tahun ’90-an.

“Hari ini Lokataru dan ICW datang ke pusat pemulihan aset untuk menyampaikan temuan dan juga mempertanyakanlah. Ada kasus lama awal tahun 90-an, kasus korupsi yang diikuti dengan perampasan aset dan perampasan aset itu jumlahnya fantastis, yaitu 11 juta meter persegi miliknya saudara, milik Lee Darmawan,” kata Haris kepada wartawan di Kejagung, Jl Sultan Hasanuddin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (27/1/2020).

Haris mengatakan tanah seluas 11 juta meter persegi milik Lee Darmawan, 10 juta meter persegi di antaranya telah dikembalikan kepada negara melalui Bank Indonesia (BI). Haris mempertanyakan kepada Kejagung ke mana larinya sisa perampasan aset tersebut.

“Nah 10 juta lebih meter persegi itu sudah dikembalikan ke pihak Bank Indonesia. Masih tersisa satu juta lebih meter persegi. Tapi juga ada sekitar ada 800 ribu meter persegi asetnya Lee Darmawan yang terikut disita dan tidak ada di dalam putusan, artinya ada di dalam kejaksaan,” katanya.

“Kami mempertanyakan aset-aset yang dirampas ke Kejaksaan Agung itu atas oleh jaksa apakah itu sudah diserahkan balik ke negara ke BI atau didaftarkan di Kementerian Keuangan,” lanjut dia.

Haris menduga sisa perampasan aset tersebut telah dikorupsi oleh para Jaksa. Hal itu, kata dia, terdapat temuan pihaknya di lapangan bahwa aset-aset Lee Darmawan telah dikuasai oleh pihak lain.

“Karena kami mencium aroma atau ada potensi aset tersebut justru dikorupsi oleh para jaksa, dijual. Nah di lapangan kami menemukan yang disebut secara fisik ya yang dimaksud dengan aset-asetnya Lee Darmawan itu, itu sudah dikuasai oleh orang-orang lain. Jadi kemungkinannya, apakah sudah ada peralihan hak ke orang lain secara sah atau memang dijualbelikan oleh para jaksa,” katanya.

Namun, kata Haris, pihaknya kali ini tidak mendapat jawaban yang memuaskan dari Kejagung. Menurutnya, Lokataru dan ICW akan kembali menyampaikan beberapa temuan lainnya dan memberi waktu selama seminggu Kejagung untuk meresponsnya.

“Jawabannya, nggak ada jawaban. Ya, pertama jelas saya nggak terima beberapa di antara mereka bilang baru, kasus ini sudah lama, mereka belum masuk kejaksaan. Menurut saya itu nggak profesional karena kita berurusan dengan instansi bukan dengan individu-individu,” katanya.

“Nah ini penting, mereka mengatakan mereka nggak dokumen. Terus saya katakan, kalau kalian nggak pegang dokumen berarti ada pencuri di dalam kejaksaan. Padahal pada kasus awal Lee Darmawan diangkat tahun 1990-an, penyidiknya adalah kejaksaan. Jadi, aset itu disita, kemudian dibawa ke pengadilan dan pengadilan memutuskan,” sambungnya. (dtc/Ath)

BERANDA | RSS 2.0 | KATEGORI: Tokoh | Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.