{"id":27651,"date":"2015-04-16T15:33:30","date_gmt":"2015-04-16T08:33:30","guid":{"rendered":"http:\/\/seputarnusantara.com\/?p=27651"},"modified":"2015-04-16T15:33:30","modified_gmt":"2015-04-16T08:33:30","slug":"dialog-kenegaraan-dpd-ri-rapor-kabinet-kerja-pemerintahan-jokowi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/seputarnusantara.com\/?p=27651","title":{"rendered":"Dialog Kenegaraan DPD RI : &#8221; Rapor Kabinet Kerja Pemerintahan Jokowi &#8220;"},"content":{"rendered":"<p><strong>Jakarta. Seputar Nusantara. <\/strong>Mengangkat tema \u201cRapor Kabinet Kerja Jokowi\u201d, Dialog Kenegeraan yang rutin digelar tiap Rabu di Coffee Corner DPD RI menghadirkan tiga narasumber, Fachrul Razi (Senator dari Provinsi Aceh), Dr. Gun Gun Heryanto (Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute), Johnny G. Plate (Wakil Ketua Fraksi Partai Nasional Demokrat DPR RI).<\/p>\n<p>Menurut Jhonny, Kabinet Kerja Jokowi belum layak menerima rapor karena pemerintahan baru berjalan enam bulan. \u201cWaktu enam bulan ini belum cukup untuk menilai kinerja pemerintahan Jokowi apalagi yang diutamakan adalah pembangunan infrastruktur, tentunya tidak bisa langsung terlihat hasilnya,\u201d tuturnya, Rabu (15\/04\/2015).<\/p>\n<p>Jhonny menambahkan situasi politik yang memanas turut berpengaruh terhadap pemerintahan. \u201cKisruhnya dualisme kepemimpinan di parlemen dan konflik internal partai sedikit banyak berpengaruh, tetapi kami mengapresiasi karena presiden tidak intervensi ke dalam konflik partai politik.\u201d<\/p>\n<p>Sementara Gun Gun menilai harapan publik yang tinggi kepada Jokowi saat pemilu yang menjadikan kekecewaan publik meningkat. \u201cEnam bulan pemerintahan ini memang yang paling sulit dicapai terutama titik keseimbangan politik. Bisa dimaklumi karena kekuatan politik sangat terfragmentasi, sebaran kekuatan politik tidak bisa dikendalikan secara optimal oleh presiden,\u201d ujar Gun Gun yang juga menjabat Dosen Komunikasi Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.<\/p>\n<p>Gun Gun menilai pola dukungan terhadap pemerintahan Kabinet Kerja Jokowi bersifat asimetris. \u201cBelum begitu jelas siapa kawan dan lawan. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya wacana politik yang dikritisi tidak hanya oleh partai di luar kekuasaan, tetapi juga di internal partai pendukung pemerintah.\u201d<\/p>\n<p>Kritik tajam disampaikan Fahcrul Razi yang menilai rapor Jokowi merah. \u201cAda dua hal yang selalu disebut-sebut selama pemilu sebagai simbol politik, yaitu Nawacita dan Revolusi Mental. Sampai detik ini implementasi di lapangan tidak nyata terlihat. Jokowi terjebak dalam retorika politik dan kedua hal itu menjadi bumerang bagi Jokowi,\u201d jelas Wakil Ketua Komite I DPD RI.<\/p>\n<p>Melihat perkembangan politik di Indonesia dan kinerja pemerintahan Jokowi, Johnny bersikukuh masih banyak waktu untuk mengatasi semua permasalahan. \u201cYang diutamakan adalah pembangunan sektor produktif. Butuh waktu untuk melihat hasil kerjanya secara nyata, jadi secara umum belum cukup untuk menilai apakah Kabinet Kerja Jokowi berhasil atau tidak.\u201d<\/p>\n<p>Sedangkan Gun Gun berpendapat Jokowi harus mengembalikan kepercayaan publik. \u201cPresiden merupakan representasi rakyat. Jokowi dipilih oleh rakyat, meskipun ada partai politik yang mendukung tetapi publik menaruh kepercayaan yang tinggi. Sehingga tidak tepat bila presiden disebut sebagai petugas partai. Dimensinya itu yang harus dilihat, Jokowi bagian dari partai politik tetapi bekerja untuk publik. Penting untuk mengembalikan public trust,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Menutup dialog, Fachrul Razi sepakat adanya reshuffle Kabinet Kerja Jokowi. \u201cSaat ini yang terlihat adalah negara sebagai problem maker bukan problem solver. Saya sepakat para menteri yang kinerjanya tidak bagus perlu di-reshuffle, sehingga kebijakan yang dibuat memang untuk kepentingan rakyat,\u201d tutupnya. <strong>(dpd.go.id\/Aziz)<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta. Seputar Nusantara. Mengangkat tema \u201cRapor Kabinet Kerja Jokowi\u201d, Dialog Kenegeraan yang rutin digelar tiap Rabu di Coffee Corner DPD [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":42,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[38],"tags":[],"class_list":["post-27651","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-headline"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/27651","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/42"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=27651"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/27651\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":27653,"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/27651\/revisions\/27653"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=27651"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=27651"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=27651"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}