{"id":28836,"date":"2015-06-25T14:18:46","date_gmt":"2015-06-25T07:18:46","guid":{"rendered":"http:\/\/seputarnusantara.com\/?p=28836"},"modified":"2015-06-25T14:20:12","modified_gmt":"2015-06-25T07:20:12","slug":"dialog-kenegaraan-%e2%80%9cmasalah-pangan-di-indonesia-timur-ditengah-hiruk-pikuk-elit-politik%e2%80%9d","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/seputarnusantara.com\/?p=28836","title":{"rendered":"Dialog Kenegaraan : Pangan di Indonesia Timur, Ditengah Hiruk Pikuk Elit Politik"},"content":{"rendered":"<p><strong>Jakarta. Seputar Nusantara<\/strong>. Kasus gizi buruk melanda di hampir semua kabupaten di NTT. Gizi buruk muncul karena orang tua tidak mampu menyiapkan makanan bergizi bagi anak-anak mereka kemudian memicu timbulnya berbagai jenis penyakit yang menyebabkan kematian.<\/p>\n<p>DPD RI peduli terhadap masalah di daerah dengan melakukan diskusi bertema \u201cMasalah Pangan Di Indonesia Timur, Ditengah Hiruk Pikuk Elit Politik.\u201d Dialog Kenegaraan menghadirkan Drs. Ibrahim Agustinus Medah, Anggota Komite II DPD RI, Senator asal Nusa Tenggara Timur \/NTT dan Agustinus Tamo Mbapa, Aktivis asal NTT\/Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik sebagai pembicara di Coffee Corner DPD RI, Rabu (24\/06\/2015).<\/p>\n<p>Seperti berita dimuat harian Kompas edisi 23 Juni 2015, sebanyak 1.918 anak di Nusa Tenggara Timur menderita gizi buruk selama Januari- Mei 2015. Tercatat 11 anak berusia di bawah lima tahun meninggal akibat gizi buruk. Selain itu, masih ada 21.134 anak balita yang mengalami kekurangan gizi. Selain faktor kemiskinan, tingginya kasus gizi buruk juga dipengaruhi rendahnya pemahaman ibu terhadap makanan bergizi. Buruknya infrastruktur dan sulitnya akses transportasi membuat penderita gizi buruk tak terkontrol oleh petugas kesehatan. Kasus gizi buruk sebetulnya selalu terjadi setiap tahun di NTT.<\/p>\n<p>Dalam diskusi itu, Drs. Ibrahim Agustinus Medah Senator asal NTT mengatakan adanya diversifikasi (keaneka-ragaman) makanan selain beras dan jagung yang perlu dilakukan. Pemerintah harus memberikan sosialisasi tentang diversifikasi makanan dan memberikan fasilitas bagaimana cara makanan itu menjadi makanan yang enak dan bergizi. Selain diversifikasi makanan, sistem penanaman gogo rancah cocok untuk sistem tanam di NTT, \u201cHal itu harus disosialisasikan sehingga bisa disesuaikan dengan pola bertani di daerah.\u201d<\/p>\n<p>NTT mempunyai lahan tidur diatas satu juta hektar. Lahan tidur itu mempunyai potensi besar yang bisa ditanami mahoni atau kemiri sunan. Penghasilan dari penanaman mahoni atau kemiri sunan cukup menjanjikan sehingga bisa mencukupi kebutuhan makanan yang enak dan bergizi.<\/p>\n<p>\u201cBanyak langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah di NTT, kita akan panggil Gubernur untuk membahas gizi buruk,\u201d ujar Ibrahim Meda. Beberapa waktu lalu, Komite II DPD RI juga  melakukan kunjungan ke NTT, sebagai tindaklanjutnya akan mengundang Kementerian terkait untuk mendapatkan solusi dari masalah gizi buruk di NTT.<\/p>\n<p>Menanggapi masalah serius yang terjadi di NTT, Agustinus Tamo Mbapa sebagai aktivis asal NTT menandaskan saatnya orang muda akan bergerak. \u201cKami akan melakukan <em>class action<\/em> (gugatan) terhadap gubernur beserta jajarannya, karena hal ini (masalah gizi buruk) sudah terjadi berulang-ulang sehingga harus diperhatikan,\u201d tegas Agustinus.<\/p>\n<p>\u201cSaya harap, DPD RI panggil Gubernur, Bupati, dan Kadis untuk memberikan penjelasan tentang gizi buruk itu. Diharapkan dari legislatif melakukan rapat koordinasi dengan semua stakeholder untuk membahas gizi buruk dan melakukan solusi terbaik,\u201d tutup Agustinus. (dpd.go.id\/Aziz)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta. Seputar Nusantara. Kasus gizi buruk melanda di hampir semua kabupaten di NTT. Gizi buruk muncul karena orang tua tidak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":42,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[38],"tags":[],"class_list":["post-28836","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-headline"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/28836","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/42"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=28836"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/28836\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":28841,"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/28836\/revisions\/28841"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=28836"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=28836"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=28836"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}