{"id":44554,"date":"2019-07-10T17:21:38","date_gmt":"2019-07-10T10:21:38","guid":{"rendered":"http:\/\/seputarnusantara.com\/?p=44554"},"modified":"2019-07-10T17:26:46","modified_gmt":"2019-07-10T10:26:46","slug":"fraksi-nasdem-dpr-ri-dorong-penggantian-uu-mahkamah-konstitusi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/seputarnusantara.com\/?p=44554","title":{"rendered":"Fraksi NasDem DPR Dorong Penggantian UU Mahkamah Konstitusi"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;font-weight: bold;background: none\"><strong>Jakarta. Seputar Nusantara.<\/strong><\/span><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\"> Fraksi Partai NasDem DPR RI melakukan kajian untuk melakukan penggantian UU No.<\/span><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\"><span style=\"font-family: ???\"> <\/span><\/span><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">8 Tahun 2011 tentang Mahkamah Konstitusi.<\/span><span style=\"font-family: ???;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\"> <\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 100%;text-indent: 0pt;text-align: justify;margin: 0pt\">\n<p><span style=\"font-family: ???;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\"> <\/span><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">Dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan di ruang rapat Fraksi NasDem Gedung Nusantara I DPR RI, Wakil Ketua Fraksi NasDem DPR RI Zulfan Lindan mengungkapkan urgensi penggantian UU Mahkamah Konstitusi (MK) telah berjalan di Komisi III DPR RI.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 100%;text-indent: 0pt;text-align: justify;margin: 0pt\">\n<p><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">\u201cKomisi III DPR RI telah melakukan Rapat Dengar Pendapat Umum untuk meminta masukan para pakar. Rapat Kerja atau Raker dengan pemerintah dalam rangka penyampaian keterangan Presiden atas RUU MK juga sudah dilakukan pada Mei lalu,\u201d kata Zulfan di Jakarta pada Rabu 10 Juli 2019.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 100%;text-indent: 0pt;text-align: justify;margin: 0pt\">\n<p><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">Saat ini, lanjut Zulfan, berbagai fraksi tengah menginventarisir Daftar Inventarisasi Masalah (DIM). Adapun Fraksi NasDem telah mengangkat beberapa isu krusial mengenai MK, meliputi rekrutmen hakim, masa jabatan hakim, kekuasaan kehakiman, dan putusan MK.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 100%;text-indent: 0pt;text-align: justify;margin: 0pt\">\n<p><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">\u201cSejalan dengan perkembangan kebutuhan hukum masyarakat, telah banyak berbagai Putusan MK yang menyebabkan perubahan besar terhadap UU MK. Namun demikian, UU MK juga memiliki permasalahan berkenaan seperti hukum acara karena pengaturannya belum lengkap dan komprehensif sesuai dengan perkembangan hukum yang ada,\u201d ungkap Zulfan.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 100%;text-indent: 0pt;text-align: justify;margin: 0pt\">\n<p><span style=\"font-family: ???;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">Dalam kesempatan yang sama, <\/span><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">Ketua MK periode 2003- 2008, Prof. DR. Jimly Asshiddiqie mengatakan bahwa usulan DIM yang dilakukan Fraksi NasDem sudah tepat.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 100%;text-indent: 0pt;text-align: justify;margin: 0pt\">\n<p><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">\u201cMasalah rekrutmen hakim ini sudah tepat sekali. Perlu dipertimbangkan apakah harus ditambah seperti di negara-negara lain, tapi yang jelas tidak mungkin dikurangi,\u201d kata Jimly mengawali penuturannya.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 100%;text-indent: 0pt;text-align: justify;margin: 0pt\">\n<p><span style=\"font-family: ???;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">Filosofinya, kata Jimly, keberada<\/span><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">an 9 hakim di negara kita adalah 9 tiang konstitusi yang berarti juga 9 jalan mazhab pikiran keadilan. Keberadaan jumlah hakim sebanyak itu menunjukkan bahwa keadilan tidak boleh tunggal, tetapi maksimal ada 9 pikiran keadilan.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 100%;text-indent: 0pt;text-align: justify;margin: 0pt\">\n<p><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">\u201cKita tidak bisa menghadirkan keadilan sebagai 1 jalan. Boleh jadi 9 jalan keadilan dengan hakim sebanyak 9 orang. Intinya tidak boleh satu keadilan,\u201d jelas Jimly.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 100%;text-indent: 0pt;text-align: justify;margin: 0pt\">\n<p><span style=\"font-family: ???;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">Dalam ilmu hukum <\/span><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">h<\/span><span style=\"font-family: ???;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">al itu dijelaskan se<\/span><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">bagai tradisi <\/span><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;font-style: italic;background: none\"><em>dissenting opinion<\/em><\/span><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">. Tradisi <\/span><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;font-style: italic;background: none\"><em>dissenting opinion<\/em><\/span><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\"> di Indonesia awalnya dilakukan di Pengadilan Tata Niaga. Walaupun, kata Jimly, pengadilan itu terkenal hanya di kalangan penguasaha saja.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 100%;text-indent: 0pt;text-align: justify;margin: 0pt\">\n<p><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">\u201cJadi, boleh jadi yang pertama kali mengenalkan tradisi dissenting opinion adalah MK,\u201d tegasnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 100%;text-indent: 0pt;text-align: justify;margin: 0pt\">\n<p><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">Jimly berpendapat, karena alasan tradisi itu, maka jumlah hakim sebenarnya tidak perlu ditambah, tetapi mengenai proses pengangkatan dan masa jabatan hakim perlu diatur.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 100%;text-indent: 0pt;text-align: justify;margin: 0pt\">\n<p><span style=\"font-family: ???;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">Menurutnya, proses pengangkatan hakim MK itu harus diperjelas apakah merepresentasikan <\/span><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">\u201cdipilih oleh\u201d atau \u201cdipilih dari\u201d.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 100%;text-indent: 0pt;text-align: justify;margin: 0pt\">\n<p><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">\u201cSaya pengalaman dulu menyampaikan hal ini ke DPR. Tetapi, suasana yang saya rasakan waktu itu, saya malah dicurigai seperti ingin menjegal sesuatu. Padahal, maksud saya prinsip \u2018dipilih oleh\u2019 yang harus ditegaskan dalam pengangkatan hakim MK,\u201d tegasnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 100%;text-indent: 0pt;text-align: justify;margin: 0pt\">\n<p><span style=\"font-family: ???;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">Jimly juga menegaskan, dalam penggantian RUU MK kedepannya harus mampu <\/span><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">memberikan ketentuan bagi peraturan turunannya. Karena desain RUU MK kedepan sudah waktunya disusun secara lebih tajam dan komprehensif.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 100%;text-indent: 0pt;text-align: justify;margin: 0pt\">\n<p><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">\u201cMisalnya terkait dengan masa jabatan. Pada RUU MK nantinya, hakim itu cukup menjabat 1 periode saja. Karena dengan lebih dari satu periode hakim itu mudah mendapatkan keuntungan dengan jabatannya tersebut,\u201d jelasnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 100%;text-indent: 0pt;text-align: justify;margin: 0pt\">\n<p><span style=\"font-family: ???;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">Hal yang tidak kalah penting menurut Jimly, pembahasan RUU MK <\/span><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">harus mengarahkan institusi MK kepada manajemen yang lebih baik. Jika meninjau pada proses penyelesaian perkara di beberapa negara, institusi seperti MK mampu menyelesaikan perkara hukum dengan kuantitas yang banyak. <\/span><span style=\"background-color: initial;font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;text-align: justify;text-indent: 0pt\">Pada negara Amerika Serikat (AS) dengan keberadaan 9 hakim Hakim Agung, mampu menyelesaikan 10.000 kasus per tahun.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 100%;text-indent: 0pt;text-align: justify;margin: 0pt\">\n<p><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">\u201cPada waktu Presiden Trump ingin membuat keputusan mengenai imigran, Hakim Agung di sana mampu menyelesaikan permasalahan hukum dalam waktu 5 hari sampai dengan keluarnya putusan,\u201d rincinya.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 100%;text-indent: 0pt;text-align: justify;margin: 0pt\">\n<p><span style=\"font-family: ???;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">Di negara Jerman dengan <\/span><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">2 chamber yang memiliki 18 hakim, maka dalam satu tahun mampu menyelesaikan 20.000 kasus per tahun.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 100%;text-indent: 0pt;text-align: justify;margin: 0pt\">\n<p><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">\u201cSebanyak-banyaknya perkara di MK, tidak lebih dari 1.000 kasus per tahun. Dan, belum tentu selesai semuanya. Ini semata-mata urusan manajemen,\u201d tegasnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 100%;text-indent: 0pt;text-align: justify;margin: 0pt\">\n<p><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">Dalam kesempatan paparannya, Jimly juga berharap dalam pembahasan RUU MK kedepan, Indonesia dapat memperkenalkan <\/span><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;font-style: italic;background: none\"><em>omnibus law<\/em><\/span><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">. Regulasi dalam konsep ini adalah membuat satu UU baru untuk mengamandemen beberapa UU sekaligus.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 100%;text-indent: 0pt;text-align: justify;margin: 0pt\">\n<p><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">\u201cHal ini penting diujicobakan dalam pembahasan MK, karena tugas dan fungsi MK yang akan melakukan pengujian terhadap UU dalam kesesuaiannya terhadap UU lain dan UUD 1945, maka perlu memberikan dampak penyesuaian yang lebih luas,\u201d terangnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 100%;text-indent: 0pt;text-align: justify;margin: 0pt\">\n<p><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">Ia mencontokan, di negara Jerman, awalnya ada UU shipping atau perkapalan. Ternyata dunia perkapalan banyak membuat para pelaut mengalami kawin-cerai di beberapa tempat. Kondisi ini membuat permasalahan dalam hukum keluarga. Maka ketika membahas RUU <\/span><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;font-style: italic;background: none\"><em>shipping<\/em><\/span><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\"> yang baru, dalam pembahasannya juga dimasukkan revisi soal UU Perkawinan.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 100%;text-indent: 0pt;text-align: justify;margin: 0pt\">\n<p><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">\u201cIni sebuah contoh yang ekstrim yang pernah terjadi, RUU Shipping tiba-tiba berkaitan dengan UU Perkawinan. Ini terjadi karena terjadi permasalahan sosial yang serius dalam hal itu,\u201d ungkap professor bidang hukum ini.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 100%;text-indent: 0pt;text-align: justify;margin: 0pt\">\n<p><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">Dalam keterkaitan itu, maka pembahasan RUU MK perlu kembali diingatkan pada 3 tujuan hukum, yaitu: keadilan, kepastian, dan kemanfaatan.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 100%;text-indent: 0pt;text-align: justify;margin: 0pt\">\n<p style=\"line-height: 100%;text-indent: 0pt;text-align: justify;margin: 0pt\"><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">\u201cBanyak orang melupakan ketika membahas tujuan hukum itu adalah kemanfaatan. Hal ini memerlukan sebuah kearifan. Tidak cukup keadilan dan kepastian hukum, seharusnya tujuan kemanfaatan harus diangkat,\u201d lanjutnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 100%;text-indent: 0pt;text-align: justify;margin: 0pt\">\n<p><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">Maka, kata Jimly, tujuan kemanfaatan ini akan membalik adagium tegakkan keadilan walau langit runtuh.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 100%;text-indent: 0pt;text-align: justify;margin: 0pt\">\n<p><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">\u201cMenurut saya, justru tegakkan lah keadilan, karena langit tidak akan pernah runtuh,\u201d pungkasnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 100%;text-indent: 0pt;text-align: justify;margin: 0pt\">\n<p style=\"line-height: 100%;text-indent: 0pt;text-align: justify;margin: 0pt\"><span style=\"font-family: Cambria;font-size: 10.5pt;vertical-align: baseline;background: none\">Adagium itu berarti hukum yang ditegakkan harus dapat dirasakan manfaatnya karena masyarakat sebagai subjek hukum akan merasakan dampak dari penegakkan hukum tersebut. (<strong>Aziz<\/strong>)<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 100%;text-indent: 0pt;text-align: justify;margin: 0pt\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta. Seputar Nusantara. Fraksi Partai NasDem DPR RI melakukan kajian untuk melakukan penggantian UU No. 8 Tahun 2011 tentang Mahkamah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":42,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[38],"tags":[],"class_list":["post-44554","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-headline"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/44554","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/42"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=44554"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/44554\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":44558,"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/44554\/revisions\/44558"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=44554"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=44554"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=44554"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}