{"id":7167,"date":"2011-06-01T03:34:08","date_gmt":"2011-06-01T03:34:08","guid":{"rendered":"http:\/\/seputarnusantara.com\/?p=7167"},"modified":"2011-06-01T03:40:43","modified_gmt":"2011-06-01T03:40:43","slug":"ir-h-muhammad-najib-m-sc-jadikan-pancasila-sebagai-spirit-untuk-membangun-character-building","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/seputarnusantara.com\/?p=7167","title":{"rendered":"Ir. H. Muhammad Najib, M.Sc. : Jadikan Pancasila Sebagai Spirit Untuk Membangun &#8220;Character Building&#8221;"},"content":{"rendered":"<p><strong>Jakarta. Seputar Nusantara.<\/strong> Menyusul kekalahan Jepang di akhir Perang Pasifik yang berdampak pada bangkitnya nasionalisme di negara-negara jajahannya, Jepang pun berusaha menarik simpati. Di Indonesia dibentuklah <em>Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai<\/em> yang dalam bahasa Indonesia disebut <em>Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).<\/em><\/p>\n<p>Pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno berpidato di depan BPUPKI menyampaikan gagasannya tentang dasar negara Indonesia Merdeka, yang dinamakannya <em>Pancasila<\/em>. Sebelumnya ada juga pidato-pidato dan penyampaian gagasan dari tokoh-tokoh nasional kala itu antara lain Muh Yamin, namun pidato Bung Karno yang lebih lengkap isi gagasannya itu yang akhirnya diterima secara aklamasi oleh segenap anggota BPUPKI.<\/p>\n<p>Menurut <strong>Ir. H. Muhammad Najib, M.Sc., Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PAN (Partai Amanat Nasional)<\/strong>, bahwa sekarang ini ada kecenderungan pada masyarakat kita terimbas arus globalisasi, dimana masalah pragmatisme, individualisme dan materialisme merasuk ke dalam individu- individu masyarakat kita melalui berbagai media terutama televisi. Setelah reformasi kita memang kurang mengantisipasi masalah itu, sehingga pengaruh tersebut begitu kuat.<\/p>\n<p>&#8221; Menurut saya, momentum hari lahirnya Pancasila pada 1 Juni 2011 seharusnya kita jadikan sebagai spirit untuk membangun <em>character building<\/em>, hanya negara- negara yang punya karakter kuat yang bisa membendung individualisme, pragmatisme dan materialisme,&#8221; ungkap Muhammad Najib kepada seputarnusantara.com di Gedung DPR- Senayan, Selasa 31 Mei 2011.<\/p>\n<p>&#8221; Kita jangan berpikir menggunakan pola- pola lama seperti saat Orde Baru dalam mentransfer nilai- nilai Pancasila. Pola- pola indoktrinasi, penataran- penataran, dan seminar sudah tidak zamannya lagi untuk mentransfer nilai- nilai Pancasila. Dengan penataran sekian jam, seolah- olah sudah Pancasilais, padahal itu belum tentu,&#8221; imbuhnya.<\/p>\n<p>Menurut Najib, media seperti televisi sangat tepat dan cepat dalam mentransfer nilai- nilai Pancasila kepada masyarakat. Sinetron, film dan pagelaran budaya, bisa digunakan sebagai sarana untuk mentransfer nilai- nilai Pancasila kepada masyarakat. Sebab media seperti televisi ditonton oleh jutaan pemirsa.<\/p>\n<p>Untuk mendukung program transfer nilai- nilai Pancasila kepada masyarakat melalui media televisi, pemerintah harus ikut memperhatikannya dengan meng-alokasikan anggaran untuk mensosialisasikan Pancasila di media televisi.<\/p>\n<p>&#8221; Kalau kita ingin membangun bangsa ini sebagai bangsa yang berkarakter, maka nilai- nilai yang terkandung didalam Pancasila harus diamalkan oleh seluruh komponen bangsa Indonesia,&#8221; tegas Najib.<\/p>\n<p>Menurut Politisi dari Partai Amanat Nasional ini, sekarang ini masyarakat Indonesia belum optimal dalam mengamalkan nilai- nilai Pancasila. Oleh karena itu kita harus mengkristalkan nilai- nilai Pancasila dalam kehidupan ekonomi, politik, sosial, budaya maupun negara. Intinya kita harus melestarikan nilai- nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.<\/p>\n<p>&#8221; Media elektronik maupun cetak, harus diberikan koridor yang jelas untuk mentransfer nilai- nilai Pancasila. Bagaimana media mengemas dan selalu kreatif serta inovatif dalam mentransfer nilai- nilai Pancasila kepada masyarakat. Pemerintah perlu memberikan insentif kepada media yang berhasil membuat program siaran yang bagus tentang penanaman nilai- nilai Pancasila kepada masyarakat,&#8221; pungkasnya.\u00a0 <strong>( Aziz )<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta. Seputar Nusantara. Menyusul kekalahan Jepang di akhir Perang Pasifik yang berdampak pada bangkitnya nasionalisme di negara-negara jajahannya, Jepang pun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":42,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[38],"tags":[],"class_list":["post-7167","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-headline"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7167","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/42"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7167"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7167\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7170,"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7167\/revisions\/7170"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7167"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7167"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/seputarnusantara.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7167"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}