logo seputarnusantara.com

Perjuangan Lidya Yang Rela Jadi Pengemudi Taksi Demi Bantu Sang Ibu

Perjuangan Lidya Yang Rela Jadi Pengemudi Taksi Demi Bantu Sang Ibu

Lidya (kiri) dan sang ibu (kanan)

22 - Des - 2015 | 15:36 | kategori:Headline

Jakarta. Seputar Nusantara. Menjadi seorang supir adalah pekerjaan yang erat kaitannya dengan pria. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi Margaretha Lidya Hutapea, wanita 35 tahun ini tidak keberatan menjadi pengemudi Uber.

Diakuinya, alasan utama menjalani pekerjaan ini adalah tuntutan ekonomi. Ia yang kini tinggal berdua dengan sang ibunda rela bekerja di jalanan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Lidya mengaku ia termasuk orang yang lebih senang bekerja bebas tanpa ikatan jam kerja.

Menjadi seorang pengemudi wanita, Margaretha tak hanya bisa mengendarakan mobil saja, ia juga dituntut untuk mengerti bagaimana caranya mendongkrak dan mengganti ban mobil. Selama sembilan bulan menjadi pengemudi Uber, awalnya wanita yang biasa disapa Lidya ini tidak memberitahu ibunya perihal pekerjaan yang dilakukannya.

“Dulu waktu awal jadi driver saya nggak kasih tahu ibu saya, karena malu. Masa sarjana komunikasi jadi supir? Tapi lama-lama saya ngobrol dengan ibu dan akhirnya beliau mengerti,” ceritanya saat dihubungi, Selasa, (22/12/2015).

Di satu sisi dirinya malu menjadi seorang pengemudi Uber, tetapi Lydia juga senang. Ia masih memiliki waktu untuk mengurus sang ibu. Misalnya, saat ibunya kurang sehat, Lydia masih bisa memasak makanan dan membelikannya obat. Maka dari itu, jam kerjanya juga tidak menentu. Terkadang ia pulang siang hari, namun ada kalanya ia bekerja hingga larut malam.

Bekerja di jalanan tentulah ada tantangan tersendiri bagi Lidya, yang paling utama adalah harus siap berhadapan dengan macet. Selain itu, dengan menjadi pengemudi Uber pula, ia bisa bertemu banyak orang dari berbagai kalangan, mulai dari karyawan biasa, bos perusahaan, atau asisten rumah tangga.

Banyak pula yang menjadikannya sebagai teman curhat, entah itu sekadar membicarakan pekerjaan, atau soal percintaan. Lydia juga tak segan menjadi pendengar yang baik bagi mereka.

“Tapi kan jalanan itu nggak bisa diprediksi, kalau saya telat menjemput pelanggan, ada yang cerewet, bawel dan marah-marah. Dari situ saya jadi bisa memahami kalau karakter setiap orang berbeda-beda,” lanjutnya lagi.

Diakuinya, menjalani pekerjaan ini cukup berat untuknya, terlebih lagi untuk seorang wanita. Tetapi wanita berambut pendek ini yakin bahwa apa yang dijalani sekarang ini merupakan rencana Tuhan. Meski terkadang sulit, namun ia selalu bersyukur karena masih bisa mendapatkan penghasilan setiap bulan dan membantu ibunya.

Dalam sebulan, Lydia bisa mendapatkan pendapatan bersih sekitar Rp 3 juta hingga Rp 4 jutaan. Biaya tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah dan dapur.

Bekerja siang dan malam demi membantu sang ibu dan mencukupi kebutuhan hidupnya, Lydia juga memiliki keinginan untuk membahagiakan ibunya pada hari ibu ini. Ia mengungkapkan, salah satu keinginan terbesarnya adalah ingin mengajak ibunda pergi wisata rohani.

“Saya ingin ajak ibu ke Israel, wisata rohani. Semoga tuhan bisa menolong saya dan mengajak ibu pergi ke sana sebelum tutup usia. Itu saja keinginan saya, kalau orang lain bisa kenapa saya nggak bisa,” tandasnya sebelum mengakhiri perbincangan. (dtc/Aziz)

BERANDA | RSS 2.0 | KATEGORI: Headline | Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.

Tulisan dengan Kategori Headline