logo seputarnusantara.com

Supiadin Aries Saputra : Radikalisme Bisa Ditangkal Dengan Pancasila dan Agama

Supiadin Aries Saputra : Radikalisme Bisa Ditangkal Dengan Pancasila dan Agama

Supiadin Aries Saputra, Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai NasDem

18 - Feb - 2016 | 15:35 | kategori:Headline

Jakarta. Seputar Nusantara. Aktivitas radikalisme di dalam negeri dinilai makin tumbuh subur sejak era reformasi.

Paham radikal disinyalir juga karena dipengaruhi orientasi yang terdorong perkembangan di dunia internasional terkait ketidakadilan terhadap umat Islam.

Kemudian, di satu sisi, transfer pemahaman kepada kalangan mahasiswa harus diperhatikan. Acuannya karena banyak mahasiswa asal Indonesia yang menempuh ilmu di Timur Tengah.

Salah satunya, lulusan mahasiswa dari universitas di Arab Saudi yang disinyalir memungkinkan transfer pemikiran Ihwanul Muslimin serta Wahhabi. Dua organisasi ini, Ihwanul Muslimin dan Wahhabi punya pemahaman sama, keharusan mendirikan negara Islam.

Menurut Supiadin Aries Saputra, Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, radikalisme itu susah dicegah secara perorangan, karena radikalisme bisa bergerak bisa melalui berbagai media, salah satunya medsos (media sosial). Gerakan radikalisme memang bisa melalui medsos dan media online, tetapi seharusnya pemerintah bisa mengontrol ketat.

” Tetapi, gerakan radikalisme itu seringkali disamarkan. Sehingga terkadang agak susah untuk dideteksi. Oleh karena itu, masyarakat harus jeli membaca berita- berita di Medsos, apakah itu termasuk gerakan radikalisme atau bukan. Dan biasanya gerakan radikalisme itu dimulai dari gerakan yang halus terlebih dahulu, kemudian setelah menjadi pengikut gerakan tersebut, baru disuntikkan yang namanya indoktrinasi,” ungkap Supiadin diruang Komisi I DPR RI- Senayan, pada Kamis 18 Februari 2016.

Oleh karena itu, pertama filternya adalah masing- masing pribadi harus waspada terhadap ajaran- ajaran yang berpotensi kearah radikalisme. Kedua, peranan media sangat besar, media juga harus ikut bertanggungjawab untuk memfilter aliran- aliran radikal itu agar tidak dibuka secara vulgar ke publik, termasuk tindakan radikal jangan dibuka vulgar ke masyarakat.

” Kita lihat teror bom Paris dan Turki, itu tidak dibuka secara vulgar. Tetapi, kita di Indonesia, peristiwa teror bom dibuka ke publik secara vulgar dan mendetail, bahkan kondisi korban dibuka ke tengah- tengah publik. Memang, pada satu sisi menimbulkan kedukaan dan empati masyarakat terhadap korban teror, tetapi pada sisi lain memberikan input balik ke teroris, bahwa mereka merasa berhasil,” tegas Supiadin, Politisi Partai NasDem ini.

Memang, lanjutnya, para teroris menginginkan agar peristiwa teror tersebut disaksikan masyarakat luas, karena para teroris butuh feedback, salah satu bentuk feedback- nya adalah laporan- laporan berita dari media. Setelah dapat feedback, baru para teroris mengklaim bahwa merekalah yang bertanggungjawab atas peristiwa teror tersebut.

” Kemudian, peranan Kementerian Kominfo juga sangat besar. Disini peranan Kemenkominfo adalah melakukan kajian- kajian, deteksi dan pemblokiran situs- situs yang mengarah kepada gerakan radikalisme. Disini peranan pemerintah cukup besar untuk menangkal gerakan radikalisme di Indonesia. Kontrol dari pemerintah sangat penting, karena komunikasi gerakan radikalisme bisa melalui email, WA, Facebook, BBM dan medsos lainnya,” terang Supiadin.

Menurut Supiadin, Pancasila merupakan ideologi yang dapat menangkal gerakan radikalisme. Dalam Pancasila ada nilai- nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Sosial, Persatuan, Demokrasi, nilai- nilai itu menjadi dasar bagi warga negara dalam implementasi kehidupan sehari- hari. Karena nilai- nilai Pancasila memberikan sifat dan watak toleransi, sikap empati juga ada dalam Pancasila.

” Disamping Pancasila, pendidikan agama juga sangat penting. Peranan orang tua untuk mendidik anak-anaknya dalam hal pemahamaan keagamaan itu cukup besar. Orang tua harus memberikan pendidikan agama kepada anaknya secara benar, benar menurut agama bukan menurut aliran. Oleh karena itu, bagi Islam itu Al Quran pedomannya, tidak boleh menafsirkan Al Quran berdasarkan kata orang. Bagi Islam pedomannya itu adalah Al Quran, Al Hadits dan As Sunnah. Jika umat Islam menemukan masalah ideologi, ya kembali kepada pedomannya yaitu Al Quran, Al Hadits dan As Sunnah,” pungkas Supiadin di penghujung wawancara. (Aziz)

BERANDA | RSS 2.0 | KATEGORI: Headline | Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.

Tulisan dengan Kategori Headline