logo seputarnusantara.com

Bahrum Daido : Tabrakan Batik Air-Trans Nusa, Pilot Memaksakan Diri Take Off

Bahrum Daido : Tabrakan Batik Air-Trans Nusa, Pilot Memaksakan Diri Take Off

DR. Ir. H. Bahrum Daido, M. Si., Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat

13 - Apr - 2016 | 11:48 | kategori:Headline

Jakarta. Seputar Nusantara. Pesawat Batik Air tabrakan dengan TransNusa di Bandara Halim Perdanakusuma- Jakarta.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) masih menginvestigasi tabrakan Batik Air dan TransNusa yang terjadi Senin 4 April 2016 yang lalu.

Butuh waktu sekitar 4 bulan buat KNKT sampai mengeluarkan laporan final.

Menurut DR. Ir. H. Bahrum Daido, M. Si., Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, bahwa kejadian itu merupakan kesalahan Pilot dari pesawat Batik Air, walaupun sudah diperintahkan oleh AirNav untuk take off, tetapi jika pandangan mata tidak clear, maka pesawat tidak boleh terbang.

” Karena pada saat pesawat Batik Air mau siap- siap untuk take off, masuklah pesawat Trans Nusa ke Runway, akhirnya pesawat Batik Air terhalang oleh pesawat Trans Nusa. Tetapi, walaupun terhalang oleh pesawat Trans Nusa, mengapa Batik Air tetap memaksakan take off?” ungkap Bahrum Daido kepada seputarnusantara.com di gedung Nusantara 1 DPR RI- senayan, pada Selasa 12 April 2016.

Lebih lanjut Bahrum memaparkan bahwa Pilot Batik Air terlalu memaksakan diri untuk take off. Menurut Pilot Batik Air, katanya mengikuti instruksi AirNav dari menara. Padahal seharusnya, walaupun AirNav dari Menara memerintahkan take off dan menyatakan clear, tetapi jika Pilot dilapangan melihat tidak clear, seharusnya jangan terbang.

” Sama ketika pesawat dalam kondisi sudah terbang, tiba- tiba ada awan Kumulonimbus (sebuah awan vertikal menjulang yang sangat tinggi, padat, dan terlibat dalam badai petir dan cuaca dingin lainnya, red.), walaupun Air Nav memerintahkan lurus, tetapi Pilot harus punya inisiatif lapangan untuk belok menghindari awan Kumulonimbus tersebut, untuk menghindari bahaya dan resiko kecelakaan,” tegas Politisi Partai Demokrat ini.

Jadi, lanjutnya, dengan peristiwa tersebut, kita evaluasi pertama, bahwa bandara Halim Perdana Kusuma merupakan bandara dengan kapasitas kecil dan tidak cocok untuk penerbangan komersil, bandara Halim cocoknya untuk bandara militer.

” Kami beranggapan bahwa untuk bandara Halim difokuskan saja untuk bandara militer. Sedangkan penerbangan komersil yang sekarang di Halim, ditarik kembali ke bandara Soetta (Soekarno Hatta Cengkareng). Kalau memang di bandara Soetta sudah terlalu padat, kan bisa dialihkan ke bandara Pondok Cabe, kan sudah bisa digunakan untuk penerbangan komersil itu,” jelas Bahrum Daido.

Kemudian kedua, mengenai bandara militer, tegas Bahrum, sebenarnya Halim juga tidak cocok untuk bandara militer, sebab untuk bandara militer paling tidak jaraknya minimal 30 KM dari pemukiman penduduk.

” Sedangkan bandara Halim ada ditengah- tengah pemukiman penduduk, seharusnya minimal 30 KM jaraknya. Jadi sesungguhnya bandara Halim itu, untuk bandara militer saja tidak cocok, apalagi untuk penerbangan komersil,” pungkas Bahrum Daido di penghujung wawancara. (Aziz)

BERANDA | RSS 2.0 | KATEGORI: Headline | Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.

Tulisan dengan Kategori Headline