logo seputarnusantara.com

Sulaeman Hamzah : Satelit & Peralatan Modern Makmurkan Nelayan Petani

Sulaeman Hamzah : Satelit & Peralatan Modern Makmurkan Nelayan Petani

H. Sulaeman L. Hamzah, Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai NasDem

19 - Mei - 2016 | 09:00 | kategori:Headline

Jakarta. Seputar Nusantara. Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai NasDem H. Sulaeman L. Hamzah menyambut baik program Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) menyokong data dari citra satelit mengenai Zona Potensi Penangkapan Ikan (ZPPI).

Pemanfaatan data dari citra satelit dapat dikoordinasikan dengan dinas terkait pemerintah daerah (Pemda).

” Terkait data penginderaan jarak jauh, pemanfaatannya bisa lebih diintensifkan terkait dengan
pemantauan sumber daya alam untuk meningkatkan produktivitas pertanian, daerah mana yang cocok untuk pertanian. Data citra satelit bisa juga untuk pemantauan zona penangkapan ikan. Data ZPPI yang disediakan oleh Lapan ini, bisa dipakai seluruh nelayan secara mudah, murah dan cepat,” kata Sulaeman Hamzah kepada seputarnusantara.com di Gedung Nusantara 1 DPR RI- Senayan, pada Rabu 18 Mei 2016.

Menurut Sulaeman, data citra satelit juga bisa dimanfaatkan untuk tujuan pertanian, daerah mana yang cocok untuk pertanian, kemudian juga informasi- informasi untuk mendukung peningkatan produktivitas pertanian, itu dari data-data satelit.

” Teknologi untuk penangkapan ikan seperti itu, sudah digunakan oleh nelayan- nelayan asing. Kita tahu nelayan asing menggunakan peralatan yang canggih dalam menangkap ikan sehingga memperoleh hasil yang maksimal. Hanya dengan lampu yang dipasang alat canggih, itu bisa memanggil ikan untuk berkumpul disekitar kapal nelayan asing tersebut. Setelah ikan berkumpul di sekitar kapal, maka tinggal menjaring dan hasilnya sangat maksimal,” ungkap Sulaeman, Wakil Rakyat dari Dapil Papua ini.

Memang, lanjutnya, kita belum sampai seperti nelayan asing itu, tetapi sudah mengarah kesana. Apalagi sekarang dengan bantuan citra satelit, maka akan mengetahui letak potensi ikan yang banyak jumlahnya. Dan pergerakan ikan kemana saat musim dingin dan musim panas, bisa terdeteksi, sehingga nelayan kita bisa memperoleh tangkapan yang maksimal. Tentunya, disamping dengan data citra satelit, nelayan Indonesia juga harus dilengkapi dengan peralatan yang modern tetapi tidak merusak lingkungan.

” Dengan data citra satelit dan peralatan modern untuk mendapatkan ikan yang maksimal, tentu harus didukung dengan peraturan yang mengatur agar tidak merusak lingkungan. Karena seringkali dengan peralatan yang canggih, ada potensi dampak lingkungannya. Ini yang harus diperhatikan oleh pemerintah dan nelayan,” tegas Politisi Partai NasDem ini.

Sulaeman memaparkan bahwa jangan sampai dengan peralatan yang modern dan berambisi mendapatkan hasil yang banyak, tetapi melupakan dampak kerusakan lingkungan. Maka yang terpenting adalah bagaimana mendapatkan hasil tangkapan ikan yang banyak, tetapi dengan menggunakan peralatan yang ramah lingkungan.

” Di pertanian saya kira sama, karena satelit ini kan potret langsung jarak jauh dari udara untuk melihat potensi pertanian. Lahan mana yang cocok untuk pertanian sehingga hasilnya maksimal. Penginderaan satelit ini juga sudah dipakai oleh Kementerian Kehutanan. Dengan penginderaan satelit ini, Kementerian Kehutanan akan mengetahui lokasi pohon yang tumbang, kebakaran lahan dan juga sejauhmana tingkat kerusakan hutan disuatu wilayah,” ungkapnya.

Sulaeman mendukung penggunaan teknologi modern untuk memajukan nelayan dan petani. Suatu saat, diharapkan, predikat miskin yang selama ini melekat pada nelayan dan petani bisa hilang. Sulaeman berharap agar predikat tersebut nantinya bisa berbalik, nelayan dan petani menjadi orang kaya dan makmur.

” Biaya rutin untuk menggaji pegawai pemerintah sangat membebani APBN kita. Sebetulnya, kalau kita balik, nelayan dan petani makmur dan sejahtera, maka generasi berikutnya tidak antre dan berambisi menjadi PNS, karena masih banyak pekerjaan lain yang menjanjikan kemakmuran seperti nelayan dan petani. Tentunya nelayan dan petani yang profesional dan menggunakan peralatan yang modern, tidak lagi pakai cangkul tetapi sudah menggunakan traktor untuk membajak sawahnya. Dari mulai membajak lahan, memelihara, memanen sampai pasca panen menggunakan peralatan modern dan teknologi canggih,” tegas Sulaeman.

Dengan peralatan modern dan teknologi canggih, Sulaeman berharap, pendapatan nelayan dan petani menjadi jauh lebih besar dibandingkan yang selama ini mereka alami. Seandainya pemanfaatan teknologi canggih untuk keperluan kelautan dan perikanan ini bisa segera terwujud, maka penghasilan para nelayan dan petani akan jauh lebih besar dan mereka menjadi orang kaya.

” Dengan generasi mendatang tertarik menjadi nelayan dan petani, maka APBN kita tidak akan jebol hanya untuk belanja rutin menggaji PNS. Selama ini sebenarnya sudah salah, belanja rutin pegawai pemerintah lebih besar daripada belanja pembangunan,” imbuh Sulaeman Hamzah.

Rata- rata petani Indonesia mempunyai 1- 2 Ha lahan pertanian, ada yang punya lebih banyak, ada pula yang lebih sedikit lahannya. Kita sebut saja, 1 petani mempunyai lahan 2 Ha, dengan peralatan seadanya seperti sekarang ini, hanya menghasilkan 1 kali panen = 3- 4 ton/ Ha. Kalau setahun 2 kali panen, maka akan menghasilkan 2 X 4 ton X 2 Ha = 16 ton/ tahun.

” Tetapi, kalau menggunakan peralatan yang modern dari mulai pembajakan, pemeliharaan, panen dan pasca panen, maka 1 Ha lahan bisa menghasilkan 8 ton. Artinya 1 petani bisa memperoleh 2 X 8 ton x 2 Ha = 32 ton/ tahun. Betapa makmurnya petani kalau menggunakan peralatan modern, sehingga APBN tidak terbebani oleh gaji PNS, petani bisa makmur dan sejahtera. Disitulah kita bisa mulai swasembada pangan, khususnya swasembada beras,” pungkas Sulaeman Hamzah di penghujung wawancara. (Aziz)

BERANDA | RSS 2.0 | KATEGORI: Headline | Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.

Tulisan dengan Kategori Headline