logo seputarnusantara.com

Sulaeman Hamzah : Petani Merauke, Gambaran Pertanian Mensejahterakan

Sulaeman Hamzah : Petani Merauke, Gambaran Pertanian Mensejahterakan

H. Sulaeman Hamzah, Anggota Komisi IV DPR RI

3 - Sep - 2016 | 13:30 | kategori:Headline

Jakarta. Seputar Nusantara. Wajah suram pertanian dalam negeri bukan lagi cerita baru di negeri agraris ini. Sektor pertanian yang menyumbang lapangan kerja terbesar di Indonesia ini belum memberikan kue kesejahteraan bagi para SDM yang seharian berperang dengan matahari.

Momok seperti ini hampir merata ditemui di beberapa wilayah yang terkenal sebagai lumbung beras nasional, kecuali Merauke- Papua.


Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi NasDem H. Sulaeman L Hamzah menjelaskan bahwa potret suram pertanian nasional tidak ditemukan di Merauke. Melalui pertanian, para penduduk Merauke mereguk hasil yang memuaskan dengan pendapatan rata-rata diatas dari gaji para PNS di sana. Dengan penghasilan ini para petani bisa bangga dengan profesinya sebagai petani.


“ Bayangkan saja, petani penghasilannya Rp 20 juta per hektar, itu bersihnya dalam masa tunggu 4 bulan sampai panen,” ungkapnya.


Rerata petani di Merauke menggarap lebih dari lima hektar sawah. Sulaiman bahkan menyebutkan banyak di antara petani menggarap sampai sepuluh hektar sendiri tanpa bantuan dari buruh tani yang sering dijumpai di pulau Jawa. Jadi dalam hitung-hitungannya, petani di Merauke mendapat keuntungan Rp 200 juta dalam setahun dengan dua kali masa panen.


Bagi Sulaeman, kisah sukses ini benar-benar luar biasa di tengah gencarnya rencana pemerintah untuk menjadikan Merauke menjadi lumbung beras nasional. Targetnya dalam beberapa waktu ke depan, lahan pertanian di daerah ini sudah mencapai 1,2 juta hektar.


Ditemui di ruang kerjanya, Sulaiman membeberkan kiat sukses pertanian di Merauke ini berkat kerja keras dari berbagai pihak terutama Pemerintah. Presiden Jokowi yang datang ke Merauke beberapa waktu silam dengan membawa program sejuta hektar lahan pertanian, membawa efek domino bagi sektor pertanian.

Program tersebut ditindaklanjuti oleh Sulaiman dengan mengusulkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk para petani di Merauke. Harapannya, alsintan yang disalurkan pemerintah melalui usulannya di kementerian terkait bisa meningkatkan produktifitas petani.


“ Minggu lalu petani di Distrik Kurik Merauke menyelenggarakan Sukuran Rakyat atas turunnya bantuan Alsintan. Mereka senang sekali dan banyak darinya menangis haru,” ungkapnya.


Mekanisasi Pertanian


Keberhasilan sektor pertanian di Merauke ditunjang oleh beberapa faktor. Secara geografis, menurut Sulaiman, Merauke sangat cocok untuk pertanian karena permukaan tanahnya sangat datar. Berbeda dengan wilayah pertanian di Jawa, jutaan hektar tanah di Merauke landai dan tidak berbukit. Sepanjang ratusan kilometer menuju ke pelosoknya hanya dijumpai dataran rendah dengan potensi unsur hara yang kaya. Ini adalah anugrah alam yang luar biasa karena lahan bisa lebih produktif.


“ Tanah di Merauke itu semuanya datar, ribuan hektar lahan yang siap untuk dibuka untuk pertanian pun hanya ditumbuhi pohon-pohon berbatang kecil. Sehingga sangat gampang untuk ditebang dan dibersihkan akar-akarnya,” jelas Sekretaris DPW Partai NasDem Provinsi Papua ini.


Faktor berikutnya adalah mindset SDM yang sudah modern dengan tingkat pengetahuan yang maju. Para petani di sana berangsur beralih dari cara-cara tradisional ke metode bertani modern melalui mekanisasi.

Nanang Kosim misalnya, dalam waktu terdekat ia akan melengkapi alsintannya dengan mesin zonder yang mampu membajak sawah 1 hektar dalam waktu lima jam saja.

Melalui mekanisasi pertanian, Nanang mendapatkan berbagai keutamaan terutama dalam masalah waktu dan kemudahan menggarap lahan miliknya yang sudah mencapai 7,5 hektar. Selain waktu, ia juga mengungkapkan mekanisasi lebih hemat biaya.


“ Insyaallah dalam waktu terdekat saya akan membeli mesin zonder yang harganya sekitar Rp 250 juta secara cash. Hemat biaya karena biasanya pakai traktor itu satu hektar itu seharian full, dengan mesin ini bisa beberapa jam saja. Jadi untuk bayar yang garap pun jadi lebih murah,” tuturnya.


Bukan hanya itu, mekanisasi juga dilakukan pada proses tandur (penanaman) sampai akhirnya memasuki masa panen. Dengan bantuan berupa mesin combine harvester yang Sulaeman usulkan kepada pemerintah, terbukti membuat pekerjaan petani lebih mudah. Tandur dan panen hanya menggunakan mesin combine harvester secara bergantian antara petani setempat yang masuk dalam satu kelompok tani.

Sulaiman berharap kisah sukses petani di Merauke mampu menginspirasi jutaan petani di Indonesia. Termasuk, menurutnya, metode dan perubahan mindset para petaninya, bisa menjadi role model bagi sektor pertanian secara nasional. Tujuannya untuk menyukseskan program pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan. (Aziz)

BERANDA | RSS 2.0 | KATEGORI: Headline | Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.

Tulisan dengan Kategori Headline